Morowali Elit, Tapi Listrik Sulit: Geram Demonstrasi Warga Witaponda dan Bumi Raya Tuntut Beberapa Point

0

Radarnasional,Morowali – “Forum Witaponda-Bumiraya Bersatu” menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kecamatan Witaponda untuk memprotes ketidakstabilan pasokan listrik di Kecamatan Witaponda dan Bumi Raya.

Aksi ini menarik perhatian karena daerah tersebut dikenal sebagai kawasan elit dengan industri tambang yang kaya.

Dedi, salah satu orator aksi, menyuarakan keluhan warga. “Listrik yang mati tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan bahkan waktu mati lebih lama daripada menyalanya, sangat merugikan masyarakat Witaponda dan Bumi Raya!” katanya dalam orasinya.

Ristan, koordinator lapangan aksi dari Bumi Raya, menyoroti ironi situasi ini.

“Morowali yang konon katanya kaya dan elit banyak tambang, faktanya masih terdapat dua kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah Bahodopi yang rutin mati lampu. Bahkan jargon daerah penyedia nikel terbesar dunia untuk bahan baterai listrik, ironisnya malah kesulitan listrik!” ungkapnya.

Aksi berlanjut dengan penutupan jalan Trans Sulawesi di depan Kantor Kecamatan Witaponda, disertai pembakaran ban yang menyebabkan kemacetan dan pengalihan lalu lintas.

Hisam, Staf Ahli PJ Bupati, menjelaskan salah satu penyebab pemadaman listrik adalah aliran listrik yang diberikan kepada industri sawit seperti PT. Tamaco dan PT. ANA.

“Padahal peruntukan listrik tersebut seharusnya hanya untuk rumah tangga dan bisnis usaha masyarakat, bukan untuk industri, tapi kenapa ada aliran listrik untuk industri hingga 500kv?!” ujarnya.

Seorang ibu rumah tangga juga mengeluhkan kerusakan peralatan rumah tangga akibat pemadaman listrik yang tidak menentu. “Peralatan rumah tangga, barang-barang elektronik, rusak semua tapi tak pernah kami mendapatkan kejelasan soal ganti rugi yang merupakan haknya konsumen pelanggan listrik. Bahkan sering kami bertengkar dengan suami hanya karena persoalan yang disebabkan rusaknya alat-alat rumah tangga, jadi bagaimana itu pertanggungjawabannya?!” curhatnya.

Pada pukul 11.00 WITA, perwakilan dari PLN, Pemda, dan Pemerintah Kecamatan mengadakan audiensi dengan peserta aksi di gedung STQ. Sayangnya, tidak ada anggota DPRD yang hadir meski sudah diundang.

Dalam audiensi, warga menuntut solusi konkrit dari Pemda dan PLN, bukan jawaban normatif. “Apabila solusi konkrit yang kami tuntut tidak diindahkan, diremehkan atau tak dianggap serius, kami akan kembali melakukan aksi yang lebih besar dan akan tutup jalan sampai tak bisa lagi diakses! Sudah cukup kami dijanji dan diiming-imingi, sedangkan yang kami butuhkan langkah nyata mitigasi darurat listrik untuk 3-6 bulan ke depan, sebelum program pengadaan penambahan daya listrik atau Sutet tersambung!” tegas H. Jhoni Gozal alias Haji Piala.

Pada akhirnya, beberapa poin tuntutan disepakati dan ditandatangani oleh semua pihak dengan disaksikan oleh masyarakat. Kini, tinggal pembuktian dalam beberapa hari ke depan, apakah Morowali benar-benar sudah menjadi elit, atau masih tetap saja listrik sulit.

[yotuwp type="videos" id="jmZnAc_593w" ]

LEAVE A REPLY