PEMBANTU MASYARAKAT BWSS III PALU SIBUK URUS PEMBANGUNAN KANTOR DIDUGA LALAI DENGAN KONDISI PROYEK YANG TIDAK TERURUS

oleh -1324 Dilihat

RADARNASIONAL,Palu – Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab–Rekon) Irigasi Gumbasa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang menelan anggaran sekitar Rp1,25 triliun, kini menuai sorotan tajam publik. Meski telah dinyatakan selesai dan diresmikan secara nasional, kondisi jaringan irigasi di lapangan justru menunjukkan fakta memprihatinkan.

Foto : kondisi irigasi dipenuhi rumput liar

Pantauan di sejumlah titik memperlihatkan saluran irigasi primer, sekunder, hingga tersier dipenuhi rumput liar, sementara endapan sedimen terlihat semakin meningkat. Kondisi ini menyebabkan aliran air menyempit dan tidak mengalir optimal, bahkan di beberapa lokasi drainase air tampak tidak berfungsi sebagaimana mestinya.27/12/2025

Ironisnya, proyek bernilai triliunan rupiah tersebut seolah dibiarkan tanpa perawatan pascapenyelesaian. Padahal, dalam kontrak pekerjaan infrastruktur berskala besar, kontraktor pelaksana memiliki kewajiban masa pemeliharaan untuk memastikan fungsi saluran tetap berjalan, termasuk pembersihan rumput dan pengendalian sedimentasi.

Proyek Rehab–Rekon Irigasi Gumbasa dibiayai sebagian melalui pinjaman Asian Development Bank (ADB) dan dibagi ke dalam sejumlah paket pekerjaan. Di antaranya Paket 3 senilai Rp256 miliar yang dikerjakan oleh PT PP (Persero) serta paket lainnya senilai Rp155,2 miliar yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya, di bawah pengawasan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III (BWSS III) Palu.

Namun kondisi fisik irigasi saat ini memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: ke mana peran dan tanggung jawab kontraktor serta pengawasan BWSS III Palu? Saluran yang telah direhabilitasi justru tampak seperti jaringan irigasi lama yang tak tersentuh proyek.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap produktifitas pertanian di Kabupaten Sigi. Irigasi Gumbasa selama ini menjadi tulang punggung pengairan ribuan hektare sawah. Jika sedimentasi dan penyumbatan terus dibiarkan, risiko penurunan hasil panen hingga konflik distribusi air antarpetani tidak dapat dihindari.

Masyarakat kini mendesak Kementerian PUPR, BWSS III Palu, serta aparat pengawas negara untuk segera melakukan audit teknis dan pemeriksaan lapangan secara menyeluruh. Audit dinilai penting guna memastikan penggunaan anggaran negara berjalan transparan dan kontraktor bertanggung jawab penuh atas hasil pekerjaannya.

Pihak BWSS III Palu  melalui Satker Sofyan memberikan keterangan resmi terkait kondisi irigasi yang dipenuhi rumput dan sedimen tersebut.

Sofyan (Satker) menyampaikan bahwa masa pemeliharaan proyek berlangsung selama satu tahun setelah pekerjaan dinyatakan selesai. Saat ini, masa pemeliharaan tersebut telah berakhir.27/12/2025

Untuk pemeliharaan lanjutan, tanggung jawab berada pada OP (Organisasi Pengelola), dengan pelaksanaan yang sangat bergantung pada ketersediaan dan alokasi anggaran.

Terkait waktu penyelesaian pekerjaan, Sofyan mengingat bahwa paket pekerjaan I hingga IV rampung sekitar Juni 2025.

namun saat media menanyakan penyelesaian yang di berita yang di maksud pak Sofyan mengatakan bahwa maksud saya kalau proyek di tanggul ini masih dalam pemeliharaan.

kini masyarakat menunggu penanganan langsung tanpa bualan semata .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.