Radarnasional,Buol — Hujan deras yang mengguyur wilayah Buol dalam beberapa pekan terakhir memicu ancaman longsor di jalur Buol–Lakuan–Laulalang–Lingadan. Sejumlah tebing bergerak, tanah jenuh air, dan badan jalan mulai retak, sehingga berpotensi memutus akses vital warga.

Tebing-tebing tinggi di sepanjang ruas ini bergerak perlahan, tanah menjadi jenuh air. Ancaman putusnya akses vital yang menghubungkan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga pun kian nyata. Di tengah situasi genting itu, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah turun tangan. Tanpa menunggu kondisi memburuk, tim lapangan dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat longsor di lima titik yang dinilai paling kritis. Pekerjaan ini kemudian dibungkus dalam paket Penanganan Longsoran Buol – Lakuan – Laulalang – Lingadan.

PPK 1.2 Eko Prasetyo Galih, ST, MT, mengatakan longsor yang terjadi merupakan pergerakan lereng aktif yang berbahaya bila tidak segera ditangani.
“Air menjadi faktor utama. Saat drainase tak mampu menampung debit hujan, tekanan air mendorong tanah ke arah jalan,” ujarnya.
Penanganan dilakukan di Km 493+300 dengan pembangunan dinding penahan tanah (DPT) dan drainase. Di Km 493+600, bronjong angkur dipasang perkuat struktur dan mengantisipasi material longsor . Sementara di Km 496, DPT dan drainase kembali dibangun.
Titik rawan lain berada di Km 535+300 yang memiliki tebing curam dan pergerakan tanah aktif. Di lokasi ini dipasang bronjong angkur berlapis. Adapun di Km 585, bahu jalan diperkuat dengan pasangan batu untuk menghentikan gerusan.
Eko menyebut pekerjaan dilakukan di bawah risiko cuaca ekstrem. Pengaturan lalu lintas dan pemantauan lereng diterapkan untuk menjaga keselamatan pekerja dan pengguna jalan. “Pekerjaan berpacu dengan cuaca, tapi tidak boleh berhenti karena risikonya jalan bisa terputus,” katanya.
BPJN Sulteng memastikan pemantauan terus dilakukan. Tim siaga, alat berat ditempatkan di lokasi strategis, dan respons cepat disiapkan jika muncul tanda-tanda longsor baru.








