Bank Benih Mandiri IMIP Jadi Garda Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Kawasan Industri

oleh -325 Dilihat

Radarnasional,MOROWALI — Di tengah aktivitas industri berbasis nikel yang terus berkembang, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) memperkuat upaya menjaga keseimbangan lingkungan melalui pengelolaan Nursery Mandiri.

Fasilitas yang dikelola Departemen Environmental PT IMIP itu tak sekadar menjadi tempat pembibitan tanaman. Nursery kini dikembangkan sebagai pusat konservasi, perbanyakan tanaman, sekaligus bagian dari strategi penghijauan dan dekarbonisasi di kawasan industri.

Setiap tahunnya, Nursery IMIP mampu menghasilkan lebih dari 80.000 bibit.

Bibit tersebut terdiri atas berbagai jenis tanaman peneduh, tanaman hias, hingga tanaman mangrove yang memiliki peran penting sebagai penyerap karbon atau blue carbon sink.

Bibit-bibit tersebut kemudian ditanam dan didistribusikan ke berbagai titik ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan IMIP yang memiliki luas sekitar 1.937,9 hektare.

Hingga kini, sedikitnya 53 jenis bibit telah berhasil diperbanyak dan disalurkan untuk mendukung penghijauan di kawasan.

Namun, upaya IMIP menjaga lingkungan tidak berhenti pada kegiatan pembibitan.

Sejak awal 2026, Nursery IMIP mulai menjalankan program bank benih mandiri.

Nursery Staff Environmental Department PT IMIP, Rian Hakim, mengatakan program tersebut dilakukan dengan mengumpulkan benih dari berbagai tanaman yang tumbuh di kawasan perusahaan.

Benih yang dikumpulkan mencakup tanaman lokal maupun jenis yang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati setempat.

“Setiap jenis benih dari berbagai tanaman yang tumbuh di seluruh kawasan perusahaan, baik lokal maupun endemik, dikumpulkan. Benih-benih tersebut kemudian diproses, dikeringkan, dikemas, dan disimpan sebagai cadangan untuk mendukung kegiatan perbanyakan tanaman di masa mendatang,” ujar Rian, Sabtu (18/8/2026).

Menurut Rian, keberadaan bank benih menjadi langkah penting untuk membangun kemandirian perusahaan dalam memenuhi kebutuhan bibit.

Dengan adanya cadangan benih, kebutuhan pembibitan diharapkan dapat dipenuhi dari sumber daya yang tersedia di kawasan sehingga ketergantungan terhadap benih dari luar dapat dikurangi.

“Melalui program ini diharapkan kebutuhan benih dapat dipenuhi secara mandiri sehingga mengurangi ketergantungan pada sumber dari luar. Ini juga bentuk upaya PT IMIP dalam menjaga konservasi keanekaragaman hayati lokal,” katanya.

Bibit Disebar hingga ke Luar Kawasan

Sebagai salah satu kawasan industri berbasis nikel terbesar di Asia Tenggara, IMIP tidak hanya melakukan penghijauan di dalam kawasan perusahaan.

Rian menjelaskan, bibit yang telah siap tanam disalurkan melalui tiga metode.

Pertama, bibit ditanam langsung di sepanjang jalur transportasi lingkar kawasan industri, termasuk pada ratusan titik taman jalan dengan berbagai ukuran.

Kedua, bibit didistribusikan kepada tenant untuk ditanam dan dikembangkan di area RTH masing-masing perusahaan.

Sementara metode ketiga adalah penyaluran bibit hingga ke luar kawasan perusahaan, termasuk kepada masyarakat.

“Untuk penyaluran ke luar kawasan atau masyarakat, prosesnya dilakukan sangat mudah. Masyarakat cukup bersurat kepada instansi Pemerintah Daerah. Ini hanya sebagai administrasi saja untuk nanti kita mendata tanaman jenis apa saja dan ke mana bibit tersebut disalurkan keluar,” jelasnya.

Target Kurangi Sampah Plastik

Ke depan, Nursery IMIP juga menargetkan penghentian penggunaan polybag plastik sekali pakai.

Sebagai gantinya, perusahaan akan beralih menggunakan polipot yang dapat digunakan berulang kali.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus memperkuat penerapan prinsip keberlanjutan dalam operasional nursery.

Tak hanya mandiri dalam penyediaan bibit, Nursery IMIP juga diarahkan agar mampu memenuhi kebutuhan operasional lainnya secara mandiri.

Salah satunya melalui pengembangan bahan pengendali hama dan penyakit tanaman berbahan alami.

Nursery IMIP tengah mengembangkan pembuatan insektisida dan herbisida nabati dengan memanfaatkan bahan-bahan herbal.

Dengan berbagai program tersebut, keberadaan Nursery IMIP diharapkan tidak sekadar menjadi fasilitas pembibitan.

Lebih jauh, nursery diproyeksikan menjadi pusat konservasi, inovasi, serta pengelolaan sumber daya hayati berkelanjutan di tengah kawasan industri.

“Dengan langkah ini, Nursery PT IMIP diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi tanaman, tetapi juga menjadi pusat konservasi, inovasi, dan pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan,” tandas Rian. (ful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.