Radarnasional,Palu — Jabatan Kapolresta Palu bukan posisi administratif semata. Ia adalah ruang uji bagi kepemimpinan perwira menengah Kepolisian Republik Indonesia, tempat tekanan publik, statistik kejahatan, dan dinamika sosial bertemu dalam satu garis komando. Dalam setahun terakhir, kursi itu diduduki Kombes Pol Deny Abrahams.

Sepanjang 2025, wilayah hukum Polresta Palu mencatat eskalasi kejahatan yang tidak kecil. Data Analisa dan Evaluasi kepolisian menunjukkan pengungkapan kasus narkotika meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024, tercatat 92 kasus narkoba dengan tingkat penyelesaian hampir sempurna. Setahun kemudian, jumlah itu melonjak menjadi 117 kasus, dengan 107 perkara diselesaikan dan sisanya masih dalam proses penyidikan.

Lonjakan tersebut diikuti peningkatan jumlah tersangka, dari 109 orang pada 2024 menjadi 147 orang pada 2025. Barang bukti sabu yang disita melonjak drastis, dari sekitar 1,4 kilogram menjadi lebih dari 8,3 kilogram. Ganja menunjukkan tren serupa. Aparat menyebut peningkatan ini sebagai indikasi tekanan peredaran narkoba yang semakin kuat, sekaligus bukti respons penegakan hukum yang lebih agresif.

Namun narkotika bukan satu-satunya alarm kota. Data kecelakaan lalu lintas juga meningkat signifikan. Sepanjang 2025 terjadi 232 kecelakaan, naik dari 170 kasus pada tahun sebelumnya, dengan jumlah korban mencapai 775 orang. Kepolisian mencatat pelanggaran lalu lintas dan kelalaian pengendara sebagai faktor dominan.
Kriminalitas konvensional turut bergerak naik. Laporan tindak pidana C4 meningkat dari 1.395 kasus pada 2024 menjadi 1.710 kasus pada 2025. Pencurian kendaraan bermotor tetap mendominasi. Polisi menilai meningkatnya laporan bukan semata memburuknya situasi keamanan, melainkan juga meningkatnya keberanian masyarakat untuk melapor.
Seluruh persoalan tersebut tidak ditangani secara personal. Di bawah kepemimpinan Deny Abrahams, setiap dinamika dihadapi melalui kerja kolektif bersama tim Polresta Palu. Mengelola narkotika, kriminalitas, lalu lintas, hingga tekanan publik menuntut soliditas organisasi dan konsistensi komando. Hal itu tentu bukan pekerjaan mudah, terlebih ketika eskalasi kasus berjalan beriringan dengan tuntutan kinerja yang terus meningkat.
Dalam konteks dinamika tersebut, mutasi Kapolresta Palu menjadi relevan. Pada 15 Desember 2025, Staf Sumber Daya Manusia Polri menerbitkan Telegram Rahasia mutasi perwira tinggi dan perwira menengah. Pergantian Kapolresta Palu tercantum dalam rangkaian telegram itu.
Meski berpangkat Komisaris Besar Polisi dan masih berada di jenjang perwira menengah, jabatan Kapolresta Palu kerap diposisikan sebagai titik strategis dalam pembinaan karier menuju perwira tinggi. Tidak semua perwira mendapat kesempatan ini. Jabatan tersebut menuntut kemampuan manajerial, ketahanan menghadapi tekanan publik, serta kecakapan membaca dinamika wilayah.
Berdasarkan telegram bernomor ST/2781/XII/KEP./2025 hingga ST/2781 D/XII/KEP./2025, Deny Abrahams dimutasi dan diangkat sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Binmas Baharkam Polri dalam rangka pendidikan dan pengembangan perwira tinggi tahun anggaran 2026. Penugasan ini menandai fase lanjutan dalam pembinaan kariernya di tingkat nasional.
Tongkat komando Polresta Palu dalam beberapa hari selanjutnya akan dipegang Kombes Pol Hari Rosena,sehingga tidak lama lagi waktu, mutasi tersebut akan efektif. Deny Abrahams akan meninggalkan Palu setelah satu tahun memimpin di tengah tekanan statistik kejahatan, ekspektasi publik, dan dinamika kota yang tidak sederhana. Catatan kinerjanya, dengan seluruh kelebihan dan keterbatasannya, menjadi bagian dari jejak kepemimpinan yang dinilai baik oleh institusi.
Pergi tanpa euforia, datang tanpa janji berlebihan, jabatan Kapolresta Palu kembali menegaskan wataknya: bukan sekadar posisi, melainkan fase penempaan. Dan bagi Deny Abrahams, fase itu kini mendekati akhir, meninggalkan tugas yang telah dijalankan bersama tim Polresta Palu—sebuah kerja kolektif yang jauh dari kata mudah.










