Dugaan Perselingkuhan Pejabat Pemprov Sulteng Hebohkan Publik, Korban Mengaku Alami Tekanan

oleh -342 Dilihat

RADARNASIONAL,PALU – Dugaan skandal perselingkuhan yang menyeret seorang oknum pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencuat ke publik. Kasus ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan pribadi, tetapi juga memunculkan tudingan intimidasi dan dugaan kekerasan terhadap seorang aparatur sipil negara (ASN) perempuan.

Korban yang identitasnya dirahasiakan diketahui bertugas di salah satu biro lingkup Pemprov Sulteng. Sementara pria yang disebut dalam kasus tersebut dikabarkan merupakan pejabat yang menempati posisi strategis di pemerintahan daerah.

Kakak korban mengungkapkan, hubungan keduanya bermula saat bertemu di Jakarta pada tahun 2022. Saat itu, pria tersebut disebut berupaya mendekati korban dan mengaku belum memiliki istri.

“Awalnya adik saya tidak menanggapi. Namun karena yang bersangkutan mengaku masih sendiri, hubungan mereka kemudian berlanjut,” ujar kakak korban kepada wartawan di Palu, Selasa (2/6/2026).

Hubungan itu disebut semakin intens setelah korban lolos menjadi ASN pada 2024. Namun belakangan, korban baru mengetahui bahwa pria tersebut ternyata telah berkeluarga dan memiliki anak.

Menurut pihak keluarga, selama menjalin hubungan tersebut korban beberapa kali mengalami perlakuan kasar dan mendapat tekanan saat ingin mengakhiri hubungan.

Korban bahkan disebut diminta untuk tidak membuka persoalan tersebut ke publik dengan alasan pria itu sedang menjalani proses promosi jabatan.

“Adik saya sudah lama ingin mengakhiri hubungan itu, tetapi selalu mendapat tekanan. Dia terus dikejar dan tidak diberikan ruang untuk lepas,” ungkapnya.

Pihak keluarga mengaku memiliki sejumlah bukti berupa tangkapan layar percakapan yang diduga berisi intimidasi, serta dokumentasi foto yang disebut menunjukkan adanya dugaan kekerasan terhadap korban.

Akibat tekanan yang terus diterima, korban kini memilih menghindari pertemuan dengan pria tersebut dan lebih banyak mengurung diri di rumah.

“Kondisi mentalnya terganggu. Dia ketakutan dan memilih menjauh karena merasa tidak aman,” kata kakak korban.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi sorotan. Media telah berupaya mengonfirmasi informasi tersebut kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulawesi Tengah melalui pesan WhatsApp terkait kemungkinan adanya laporan resmi dari korban.

Namun sampai berita ini diterbitkan, pihak BKD Sulteng belum memberikan tanggapan maupun klarifikasi.

AD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.