“Bangunan Negara atau Kebun Liar? Misteri Pemeliharaan Irigasi Rehab-Rekon Gumbasa Oleh Bwss III Palu di Tanggul Selatan dipertanyakan”

oleh -1190 Dilihat

RADARNASIONAL,PALU – Di atas kertas, Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) Saluran Irigasi Gumbasa dibangun untuk menghidupkan kembali infrastruktur pengairan yang rusak akibat bencana. Namun kondisi yang terlihat di kawasan Jalan Tanggul Selatan, Kota Palu, justru menghadirkan pemandangan yang memunculkan tanda tanya besar.

Foto : Terkini kawasan Irigasi di jl.Tanggul Selatan kota palu

Rumput liar tumbuh di berbagai titik. Sebagian bahkan telah berkembang menjadi tanaman berkayu menyerupai pohon kecil di area bangunan saluran dan tanggul. Di saat yang sama, sedimen masih terlihat mengendap di dalam saluran yang seharusnya dijaga agar tetap berfungsi optimal mengalirkan air.

Foto : Foto : Terkini kawasan Irigasi di jl.Tanggul Selatan kota palu

Pemandangan tersebut memunculkan pertanyaan serius. Apakah infrastruktur yang dibangun menggunakan anggaran negara itu masih mendapat perhatian dan pemeliharaan sebagaimana mestinya?

Temuan di lapangan menunjukkan kondisi yang sulit dianggap sebagai persoalan sepele. Vegetasi yang tumbuh di area konstruksi tidak muncul dalam hitungan hari, melainkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Artinya, jika tanaman telah membesar hingga menyerupai pohon, muncul dugaan bahwa proses pemeliharaan dan pengawasan tidak berjalan maksimal.

Lebih jauh, sedimentasi yang terlihat di dalam saluran juga berpotensi mengurangi kapasitas aliran air. Jika terus dibiarkan, fungsi utama infrastruktur untuk mendukung sistem pengairan dan pengendalian aliran air dapat terganggu.

Saat dikonfirmasi mengenai kondisi tersebut, Satker BWSS III Palu, Sofyan, hanya memberikan jawaban singkat melalui pesan WhatsApp.

“Waalaikum salam… sy koordinasikan dg teman-teman ya pa,” tulisnya.8/6/2026

Namun ketika dimintai penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi saluran irigasi yang dipenuhi rumput liar dan sedimen, termasuk siapa yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan proyek tersebut, belum ada keterangan tambahan yang diberikan hingga berita ini diterbitkan.

Jawaban singkat itu justru memunculkan pertanyaan baru. Koordinasi seperti apa yang masih diperlukan ketika kondisi di lapangan terlihat nyata? Apakah pihak pengelola belum mengetahui kondisi tersebut, atau memang belum ada langkah konkret yang dilakukan?

Publik kini menunggu keterbukaan BWSS III Palu mengenai status pemeliharaan proyek Rehab-Rekon Gumbasa. Apakah masih berada dalam masa tanggung jawab kontraktor pelaksana, atau telah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah melalui BWSS III? Berapa anggaran pemeliharaan yang telah dialokasikan? Dan kapan terakhir kali inspeksi lapangan dilakukan?

Di tengah besarnya dana yang dikucurkan untuk memulihkan infrastruktur pascabencana, kondisi saluran irigasi di Jalan Tanggul Selatan menjadi potret yang layak mendapat perhatian serius. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas bangunan, tetapi juga akuntabilitas pengelolaan aset negara.

Ketika rumput telah tumbuh menjadi pohon di tengah infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar, publik berhak bertanya: apakah pemeliharaan benar-benar berjalan, atau proyek yang digadang-gadang menjadi tulang punggung pemulihan pascabencana itu perlahan mulai terlupakan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.