Merawat Jalan, Menjaga Kehidupan: BPJN Sulteng Kebut Preservasi Ruas Buol–Lakuan-Laulalang

oleh -305 Dilihat

RadarNasional,BUOL – Di balik hamparan aspal yang kini kembali mulus di ruas Buol–Lakuan–Laulalang–Lingadan, tersimpan kerja keras yang tidak sederhana. Menghadapi kondisi geografis Kabupaten Buol yang didominasi perbukitan, pegunungan, hingga kawasan pesisir, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah) terus berpacu dengan waktu menjaga jalan nasional tetap mantap melalui Program Preservasi Jalan Tahun Anggaran 2026.

Bagi masyarakat Buol, jalan nasional bukan sekadar jalur penghubung antarkecamatan. Ruas ini merupakan urat nadi kehidupan yang menggerakkan roda perekonomian, menjadi jalur distribusi hasil pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, hingga membuka akses menuju berbagai kawasan wisata dan pelayanan publik. Karena itu, setiap kerusakan sekecil apa pun harus segera ditangani agar tidak mengganggu mobilitas masyarakat.

Foto : Ac Wc ruas buol-lakuan

Komitmen tersebut kini mulai membuahkan hasil. BPJN Sulawesi Tengah berhasil menuntaskan pekerjaan Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) di KM/STA 49+700 (Minor Seksi 4) Ruas Buol–Lakuan dengan kondisi berprogres menunjukan kondisi yang sangat baik .Penyelesaian pekerjaan ini tetap di kerja sampai batas penyelesaian di 31 Desember 2026 sehingga kedepannya menjadi salah satu capaian penting dalam upaya menjaga kemantapan jalan nasional di Kabupaten Buol.

Foto : pekerjaan CAP Ruas Buol-Lakuan

AC-WC merupakan lapisan aspal paling atas yang langsung bersentuhan dengan roda kendaraan. Keberadaannya sangat vital karena berfungsi memberikan permukaan jalan yang lebih rata, meningkatkan daya cengkeram ban kendaraan, melindungi struktur jalan dari rembesan air, serta memperpanjang umur layanan jalan. Dengan rampungnya pelapisan tersebut, masyarakat kini dapat menikmati perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan lancar.

Foto : pekerjaan Cap Euas Laulalang-Lakuan

Namun pekerjaan preservasi tidak berhenti sampai di situ. Di titik lain, tepatnya KM 40+100 ruas Laulalang–Lakuan, tim BPJN Sulawesi Tengah juga tengah melakukan CAP (patching) atau penambalan menggunakan material aspal panas (hotmix) pada sejumlah titik kerusakan.

Metode CAP menjadi langkah preventif yang sangat penting. Kerusakan kecil seperti retak atau lubang ditangani lebih awal agar tidak berkembang menjadi kerusakan struktural yang membutuhkan biaya perbaikan jauh lebih besar. Selain menjaga kualitas jalan, penanganan cepat ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Di lapangan, proses preservasi dilakukan secara bertahap dengan standar teknis yang ketat. Mulai dari pembersihan area yang rusak, pemotongan perkerasan, penghamparan campuran aspal panas, hingga proses pemadatan dilakukan secara teliti agar menghasilkan konstruksi yang kuat dan tahan terhadap beban lalu lintas.

Program preservasi tersebut berada di bawah tanggung jawab Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 BPJN Sulawesi Tengah, Eko Prasetyo Galih, S.T., M.T., yang memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum.

Menurut Eko, preservasi jalan bukan hanya tentang memperbaiki kerusakan yang tampak di permukaan, melainkan menjaga agar fungsi jalan nasional tetap optimal sebagai infrastruktur strategis yang menopang aktivitas masyarakat.

“Preservasi jalan bukan sekadar menambal kerusakan, tetapi menjaga agar fungsi jalan nasional tetap optimal dalam melayani masyarakat. Kami ingin memastikan setiap penanganan dilakukan tepat waktu, tepat mutu, dan memberikan manfaat jangka panjang. Dengan kondisi jalan yang mantap, mobilitas masyarakat menjadi lebih aman, distribusi logistik lebih lancar, dan roda perekonomian daerah dapat terus bergerak,” ujarnya.

Ia menegaskan, BPJN Sulawesi Tengah berkomitmen menuntaskan seluruh pekerjaan sesuai target yang telah ditetapkan. Menurutnya, kualitas pekerjaan menjadi prioritas utama agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Tentunya kami akan terus bekerja hingga seluruh target pekerjaan yang telah ditetapkan dapat diselesaikan. Komitmen kami adalah memberikan pelayanan jalan nasional yang prima kepada masyarakat. Karena itu, setiap pekerjaan kami laksanakan dengan mengutamakan kualitas, keselamatan, dan ketepatan waktu sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh pengguna jalan,” tegas Eko.

Tantangan menjaga kemantapan jalan di Kabupaten Buol memang tidak ringan. Topografi yang berbukit, curah hujan yang tinggi, serta tingginya aktivitas kendaraan membuat kondisi jalan memerlukan pemeliharaan secara berkelanjutan. Tanpa preservasi yang rutin, kerusakan kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi kerusakan berat yang menghambat mobilitas masyarakat dan meningkatkan biaya perbaikan.

Karena itulah, program preservasi menjadi langkah strategis pemerintah untuk melindungi aset infrastruktur negara sekaligus memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga. Jalan yang mantap akan mempercepat distribusi logistik, menekan biaya transportasi, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, dan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Berprogresnya pekerjaan AC-WC ini di KM/STA 49+700 yang dibarengi dengan penanganan CAP di sejumlah titik tetap menjadi harapan bahwa pemerintah tidak hanya fokus membangun jalan baru, tetapi juga serius merawat jalan nasional yang telah ada agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui Program Preservasi Jalan Buol–Lakuan–Laulalang–Lingadan Tahun 2026, BPJN Sulawesi Tengah optimistis akhir tahun 2026 ini segera menjadi konektivitas wilayah akan semakin kuat. Di setiap lapisan aspal yang dihamparkan dan setiap kerusakan yang diperbaiki, tersimpan harapan agar aktivitas masyarakat semakin lancar, perekonomian terus tumbuh, dan pembangunan di Kabupaten Buol bergerak semakin maju.

Ad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.