PALU, RADARNASIONAL— Sulawesi Tengah kembali menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan hingga semester pertama 2026, luas wilayah yang terbakar di Sulawesi Tengah telah mencapai sekitar 4.147 hektare.
Angka tersebut menempatkan Sulteng di peringkat ke-11 nasional untuk luas karhutla terbesar. Posisi ini memang turun dibandingkan 2025, ketika Sulteng sempat berada di peringkat ke-7 nasional.
Namun, ancaman kebakaran di wilayah ini justru menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, satelit mendeteksi sebanyak 1.007 titik panas (hotspot) di Sulawesi Tengah.
Jumlah tersebut melonjak hingga 205 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini membuat Sulteng menjadi salah satu wilayah yang patut diwaspadai saat musim kemarau berlangsung.
Jika dibandingkan dengan provinsi di luar Pulau Kalimantan dan Sumatra, posisi Sulteng bahkan masuk lima besar wilayah dengan luas karhutla tertinggi.
Sementara di Pulau Sulawesi, Sulteng menjadi daerah dengan luas karhutla terbesar berdasarkan data berjalan tersebut.
Secara nasional, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan karhutla terluas mencapai 38.310,86 hektare, disusul Papua Selatan 25.838,53 hektare, Nusa Tenggara Timur 19.565,16 hektare dan Nusa Tenggara Barat 17.406,46 hektare.
Di bawahnya terdapat Riau, Maluku, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kepulauan Riau.
Dengan luas lebih dari 4.000 hektare yang sudah terbakar, Sulteng kini menghadapi pekerjaan besar untuk mencegah api terus meluas, terutama memasuki periode kemarau.
Lonjakan hotspot menjadi alarm penting. Sebab, semakin banyak titik panas terdeteksi, semakin besar pula potensi kebakaran meluas apabila tidak segera ditangani.
Data tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah, petugas di lapangan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan.
Karhutla bukan hanya menghanguskan vegetasi dan lahan. Jika meluas, asapnya dapat mengganggu kualitas udara, mengancam ekosistem hingga berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Sulteng pun kini berada dalam situasi yang tak boleh dianggap remeh: ribuan hektare telah terbakar, sementara ribuan titik panas terus menjadi alarm dari satelit.AD






