Karyawan IMIP Tembus 100.310 Orang, Perputaran Uang Capai Rp449,1 Miliar per Bulan

oleh -467 Dilihat
Screenshot

RADARNASIONAL,MOROWALI — Kawasan industri di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini telah jauh berubah dibandingkan lebih dari satu dekade lalu.

Jika peta Kecamatan Bahodopi di kantor kecamatan yang dibuat sejak 2009 masih menggambarkan kawasan tersebut sebagai hamparan ilalang, pepohonan dan kampung-kampung kecil, kondisi hari ini menunjukkan wajah yang berbeda.

Dari kawasan yang dulu didominasi jalan sederhana, kini berdiri deretan pabrik peleburan, fasilitas industri, pelabuhan hingga berbagai aktivitas ekonomi yang bergerak hampir tanpa henti.

Perubahan tersebut tidak lepas dari berkembangnya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sebagai salah satu kawasan industri berbasis hilirisasi nikel.

Memasuki tahun ke-13, aktivitas kawasan IMIP semakin besar. Salah satu indikatornya terlihat dari jumlah tenaga kerja yang terus meningkat.

Data HR Department PT IMIP mencatat, jumlah tenaga kerja di kawasan tersebut pada 2020 mencapai 35.592 orang.

Jumlah itu meningkat menjadi 51.542 orang pada 2021, kemudian 68.466 orang pada 2022, 74.350 orang pada 2023, dan sekitar 83.000 orang pada 2024.

Pada 2025, jumlah pekerja kembali meningkat menjadi 86.804 orang.

Hingga September 2026, jumlah karyawan di kawasan IMIP telah mencapai 100.310 orang, terdiri dari 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan.

Besarnya jumlah pekerja tersebut ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.

Data yang disampaikan PT IMIP menyebut, dengan populasi pekerja tersebut, estimasi perputaran uang di Bahodopi mencapai sekitar Rp449,1 miliar setiap bulan, atau sekitar Rp5,3 triliun dalam setahun.

Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan ekonomi harian yang muncul seiring pertumbuhan kawasan industri.

Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan pertumbuhan kawasan turut mendorong perkembangan sektor usaha masyarakat di Bahodopi.

Menurutnya, terdapat sejumlah jenis UMKM yang berkembang di sekitar kawasan, mulai dari kios Pertamini, stan minuman, stan makanan, kios umum hingga warung makan.

“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang,” ujar Dedy.

Data yang disampaikan menunjukkan terdapat 981 unit Kios Pertamini, 735 stan minuman, 670 stan makanan non-bangunan, 648 kios umum dan 591 warung makan.

Sebagian besar usaha tersebut masih berada dalam kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun. Namun, pertumbuhan aktivitas ekonomi membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang dan naik kelas.

Kawasan IMIP sendiri ditopang sejumlah klaster industri. Di antaranya klaster stainless steel, carbon steel, serta komponen bahan baku baterai yang menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik.

Selain itu, kawasan juga didukung fasilitas pembangkit listrik, industri bahan kimia, pelabuhan hingga bandara khusus.

Pertumbuhan industri tersebut turut memberikan dampak terhadap perekonomian Sulawesi Tengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan Februari 2026 menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,79 persen.

Pertumbuhan ekonomi Sulteng tersebut antara lain ditopang dominannya sektor industri pengolahan berbasis nikel serta pertambangan dan penggalian.

Selama 13 tahun terakhir, perkembangan kawasan IMIP juga menciptakan kebutuhan terhadap berbagai usaha pendukung, mulai dari kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, usaha kuliner hingga hunian bagi para pekerja.

Dengan jumlah pekerja yang kini menembus 100 ribu orang, Bahodopi tidak lagi sekadar kawasan industri.

Denyut aktivitas IMIP telah ikut membentuk wajah baru perekonomian di sekitar kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.