Pemadaman Listrik di Palu Berulang, UMKM Menanggung Kerugian, Publik Dilatih Bersabar

oleh -308 Dilihat
Screenshot

PALU, RADARNASIONAL.NET – Pemadaman listrik bergilir di Kota Palu, Sulawesi Tengah, bukan sekadar persoalan lampu yang padam. Ketika pasokan listrik terhenti, aktivitas ekonomi tersendat, layanan publik terganggu, dan masyarakat harus menanggung dampaknya.

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), listrik menjadi penopang utama operasional. Usaha laundry, pengisian air galon, hingga warung makan berisiko kehilangan pendapatan ketika peralatan tidak dapat digunakan.

Kerugian juga mengintai pedagang makanan beku. Freezer yang berhenti bekerja dapat membuat stok mencair dan rusak. Pengusaha ikan hias pun menghadapi risiko kematian ikan ketika aerator tidak berfungsi. Belum lagi biaya tambahan untuk membeli bahan bakar genset dan potensi kerusakan peralatan akibat gangguan tegangan listrik.

Dampaknya meluas ke rumah tangga dan fasilitas umum. Pompa air listrik tidak dapat digunakan, jaringan komunikasi dan internet berpotensi terganggu, sementara lampu lalu lintas yang padam dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Pelayanan kesehatan dan kegiatan pendidikan yang bergantung pada perangkat elektronik maupun jaringan internet juga berpotensi terdampak.

Di tengah berbagai keluhan tersebut, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai keandalan pasokan listrik, termasuk penjelasan mengenai penyebab pemadaman, wilayah terdampak, dan langkah konkret untuk mengurangi gangguan.

Dilansir Dari Media Readnews Asisten Manajer Marketing PLN UP3 Palu, Natalia, mengatakan PLN terus memperkuat sistem kelistrikan Sulawesi untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pasokan.

“Pada 17 Oktober 2026, telah diresmikan penguatan interkoneksi Sidera–Palu melalui PLTD Sidera secara bertahap, dengan kapasitas tahap pertama 20 MW dari total 50 MW,” kata Natalia.

Menurut dia, sistem interkoneksi Sulawesi menghubungkan jaringan kelistrikan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Sistem tersebut memungkinkan penyaluran listrik antardaerah berdasarkan ketersediaan daya dan kemampuan jaringan.

“Melalui sistem ini, pasokan listrik dapat disalurkan antardaerah sesuai ketersediaan daya dan kemampuan jaringan, sehingga meningkatkan fleksibilitas serta keandalan pasokan. Namun, penyalurannya tetap bergantung pada ketersediaan pembangkit dan kapasitas jaringan,” ujarnya.

Penjelasan PLN itu menunjukkan bahwa penguatan infrastruktur menjadi salah satu upaya menjaga pasokan listrik. Namun, bagi warga dan pelaku usaha yang terdampak pemadaman, pembangunan kapasitas pembangkit perlu diikuti hasil yang dapat dirasakan dalam kegiatan sehari-hari.

Kapasitas tambahan 20 MW pada tahap pertama juga belum dengan sendirinya menjawab seluruh persoalan keandalan listrik. Kinerja pembangkit, kemampuan jaringan, ketersediaan daya, serta penyebab gangguan tetap menjadi faktor yang menentukan.

Karena itu, keterbukaan informasi mengenai jadwal pemadaman, penyebab gangguan, dan target pemulihan pasokan menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai proyek penguatan sistem, tetapi juga kepastian mengenai kualitas layanan yang mereka terima.

Bagi UMKM, listrik yang andal bukan sekadar fasilitas. Pasokan listrik menentukan apakah usaha dapat beroperasi, produk tetap terjaga, dan pendapatan keluarga tidak tergerus akibat gangguan yang berada di luar kendali mereka.AD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.