Donggala Bangkit: Menuju Destinasi Unggulan Wisata Berbasis Kearifan Lokal di Pesisir Barat Sulteng

oleh -972 Dilihat

RadarNasional,Donggala, Sulawesi Tengah — Kabupaten Donggala kini menapaki jalan besar menuju transformasi sebagai destinasi unggulan pariwisata di pesisir barat Sulawesi Tengah. Dengan mengusung pendekatan berbasis kearifan lokal, pembangunan sektor pariwisata di Donggala tak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, namun juga menekankan pelestarian budaya, lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam pandangan Dr. Suaib Djafar, M.Si, seorang akademisi sekaligus pemerhati pariwisata Sulawesi Tengah, arah pembangunan pariwisata Donggala harus menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas lokal. Hal ini ia sampaikan dalam tulisannya berjudul “Donggala Menuju Destinasi Unggulan Pariwisata di Pesisir Barat Sulawesi Tengah yang Berbasis Kearifan Lokal.”

“Pariwisata hari ini bukan hanya soal pemandangan indah, tetapi juga tentang pengalaman autentik, keberlanjutan, dan keterlibatan masyarakat lokal,” tegas Dr. Suaib Djafar.

Alam, Budaya, dan Sejarah: Tiga Pilar Daya Tarik Donggala

Donggala menyimpan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari Pantai Tanjung Karang, Pulau Pasoso yang dikenal sebagai surga diving, hingga bentang perbukitan dan hutan tropis yang cocok dijadikan lokasi ekowisata.

Tidak hanya itu, Donggala juga kaya akan budaya dan sejarah. Tradisi lokal seperti Modiu Bulava Pongeo, musyawarah adat Libu Nu Ada, serta warisan kerajinan tenun ikat Donggala menjadi kekuatan pariwisata berbasis budaya.

Aset sejarah seperti pelabuhan tua dan bangunan kolonial Belanda pun menjadi peluang pengembangan wisata edukatif dan sejarah yang tak kalah menarik.

Kearifan Lokal sebagai Napas Pembangunan

Menurut Dr. Suaib Djafar, kunci keberhasilan pariwisata Donggala adalah dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek wisata. Pendekatan Community-Based Tourism (CBT) disebut sebagai model yang paling ideal.

“Dengan menjadikan masyarakat sebagai pelaku aktif—mulai dari penyedia homestay, kuliner lokal, hingga pelestari tradisi—pariwisata Donggala bisa tumbuh lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Strategi Menyeluruh dan Tantangan yang Realistis

Strategi yang diusulkan antara lain:

  • Promosi destinasi unggulan seperti Tanjung Karang dan Pulau Pasoso.

  • Pelatihan SDM lokal di bidang pariwisata dan hospitality.

  • Pengembangan ekonomi kreatif seperti kuliner khas (Kaledo, Sinole) dan tenun Donggala.

  • Penataan ruang yang selaras dengan pelestarian budaya dan lingkungan.

  • Optimalisasi media digital untuk pemasaran destinasi.

Meski tantangan seperti akses jalan, keterbatasan fasilitas, dan belum meratanya peran masyarakat masih menjadi hambatan, solusi inklusif berbasis lokal diyakini mampu mengatasinya.

Menuju Donggala yang Berdaya dan Berbudaya

“Donggala tidak sekadar menjadi tujuan wisata, tapi harus menjadi simbol dari pariwisata yang berdaulat—yang menjaga jati diri, martabat budaya, dan lingkungan hidup,” pungkas Dr. Suaib Djafar, M.Si, dengan penuh harap.

Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, Donggala diyakini siap menyambut masa depan sebagai magnet baru wisata berkelanjutan di Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.