Pemuda Bahodopi Protes HUT Kecamatan: Dinilai Tertutup, Abaikan Tokoh Lokal dan Hamburkan Dana CSR

oleh -1388 Dilihat

RADARNASIONAL,MOROWALI — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kecamatan Bahodopi yang digelar pada 1–5 Mei 2026 menuai kritik keras dari kalangan pemuda dan masyarakat lokal. Kegiatan yang seharusnya menjadi momentum refleksi sejarah daerah itu justru dinilai minim partisipasi masyarakat, tidak melibatkan tokoh pejuang pemekaran Bahodopi, hingga dianggap menghamburkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Sorotan tajam itu disampaikan Asrar, pemuda asli Bahodopi sekaligus mantan Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kabupaten Morowali (IP2MM) tahun 2024. Ia menegaskan penolakannya terhadap format pelaksanaan HUT yang disebut digelar secara mendadak dan tertutup tanpa melibatkan masyarakat pribumi.

Menurutnya, masyarakat lokal, termasuk pemuda dan tokoh adat, sama sekali tidak diberikan ruang untuk terlibat dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan.

“Kegiatan ini dilakukan secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan kami, khususnya KMKB (Kerukunan Masyarakat Kecamatan Bahodopi). Tahu-tahu sudah ada acara. Pelaksanaannya sama sekali tidak melibatkan tokoh-tokoh yang ada di Kecamatan Bahodopi, termasuk kami dari kalangan pemuda. Kami di daerah sendiri seolah hanya dijadikan penonton,” ujar Asrar kepada media ini.

Ia juga menyoroti penggunaan dana CSR perusahaan kawasan industri yang disebut mencapai angka fantastis demi membiayai kegiatan seremonial tersebut. Menurutnya, penggunaan dana besar untuk pesta perayaan sangat tidak relevan dengan kondisi masyarakat lingkar tambang yang masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.

“Asumsi yang kami terima, dana CSR yang dikucurkan untuk acara ini sangat besar. Sementara masih banyak kebutuhan masyarakat yang jauh lebih mendesak, seperti infrastruktur yang buruk, pemberdayaan ekonomi masyarakat asli, hingga persoalan sosial lainnya yang belum terselesaikan,” tegasnya.

Asrar menilai, di tengah derasnya arus investasi di Bahodopi, masyarakat lokal seharusnya mendapat perhatian lebih besar, bukan justru disuguhkan kegiatan seremonial yang dinilai kehilangan makna.

Ia mengingatkan bahwa tanggal 30 April sebagai hari jadi Kecamatan Bahodopi seharusnya menjadi momentum mengenang perjuangan para tokoh pemekaran wilayah dari Kecamatan Bungku Selatan, bukan sekadar panggung hiburan.

“HUT itu bukan sekadar hura-hura lalu selesai. Ini momentum refleksi sejarah daerah. Perjuangan para pencetus terbentuknya Kecamatan Bahodopi harus dihormati dan dikenang, bukan malah tertutupi oleh acara hiburan sesaat,” katanya.

Meski melontarkan kritik keras, Asrar tetap memberikan apresiasi kepada panitia pelaksana. Ia menegaskan kritik tersebut merupakan bentuk kepedulian agar ke depan pelaksanaan HUT Kecamatan Bahodopi dapat lebih terbuka dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Kita tidak saling menyalahkan. Ini sebatas mengingatkan. Sebagai putra asli Bahodopi, mari bangun komunikasi, silaturahmi, dan persaudaraan yang baik. Ke depan, panitia seharusnya membuka forum bersama agar semua pihak bisa ikut berpartisipasi,” pungkasnya.

Ia pun mendesak pemerintah kecamatan dan perusahaan di kawasan industri agar lebih memprioritaskan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dibanding mengutamakan kegiatan seremonial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.