Daerah Industri Raksasa, Tapi Gas Subsidi Langka: Pemda Kab.Morowali Dinilai Gagal Menjamin Kebutuhan Dasar Warga

oleh -304 Dilihat

RadarNasional,Morowali-Kelangkaan gas LPG 3 kilogram yang terus berulang di Kabupaten Morowali kembali menjadi sorotan. Di tengah geliat industri dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dibanggakan, warga justru masih harus berjuang mendapatkan kebutuhan dasar rumah tangga. Persoalan yang sudah lama dikeluhkan masyarakat itu dinilai seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat kecil.

Tak hanya itu ,Beberapa pangkalan di kawasan daerah kec.Witaponda terpantau kosong namun di kios kios kecil terdapat gas LPG melon yang di jual lumayan mahal berkisar dari 65 ribu sampai 75 ribu membuat tanda tanya besar .

Hal tersebut juga menjadi atensi  saat Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Syarifudin Hafid, melaksanakan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) di Desa Uedago, Kecamatan Bungku Barat. Dalam pertemuan dengan warga, kelangkaan gas LPG bersubsidi menjadi keluhan yang paling banyak disampaikan masyarakat.

Warga mengaku semakin sulit memperoleh tabung gas 3 kilogram yang selama ini menjadi penopang kebutuhan memasak rumah tangga. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan distribusi gas bersubsidi di daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Sulawesi Tengah.

Menanggapi aspirasi tersebut, Wakil Ketua II DPRD Sulawesi Tengah dari Partai Demokrat itu menegaskan akan membawa persoalan tersebut kepada Bupati Morowali dan Gubernur Sulawesi Tengah agar segera mendapat solusi.

“Saya akan sampaikan kepada Pak Bupati dan Pak Gubernur. Karena dua desa yang saya datangi ini, persoalan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat adalah gas,” ujar Syarifudin, dikutip dari akun TikTok resminya, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, tingginya konsumsi LPG di Morowali merupakan konsekuensi dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, kondisi itu tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk membiarkan persoalan distribusi terus berulang.

Selain soal kelangkaan gas, Syarifudin juga menyoroti tingginya angka pengangguran di Morowali dan Morowali Utara saat menggelar Kundapil di Desa Wata. Ia mendorong pemuda dan karang taruna agar meningkatkan keterampilan melalui berbagai pelatihan yang dapat membuka peluang kerja dan usaha mandiri.

Syarifudin bahkan menyatakan kesiapannya memfasilitasi pelatihan bagi masyarakat, mulai dari tata rias, memasak hingga pelatihan menjadi pembawa acara (MC).

Ia berharap berbagai aspirasi masyarakat tidak berhenti sekadar menjadi catatan kunjungan, melainkan benar-benar ditindaklanjuti menjadi kebijakan yang mampu menjawab persoalan riil yang dihadapi warga.

AD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.