Bukan Sekadar Penerjemah, “Jubir” di IMIP Jadi Jembatan TKA-TKI dan Penjaga Keselamatan Kerja

oleh -342 Dilihat
Screenshot

RADARNASIONAL,MOROWALI, 13 Agustus 2026 – Di balik sibuknya aktivitas ribuan pekerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), terdapat sosok yang memegang peran penting dalam memastikan komunikasi antara tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok dan tenaga kerja Indonesia (TKI) berjalan tanpa hambatan.

Foto :Kecakapan bahasa asing menjadi syarat wajib di kawasan IMIP, terutama di beberapa posisi bidang pekerjaan demi menunjang produktivitas dan kolaborasi.

Mereka adalah para penerjemah yang di lingkungan IMIP dikenal dengan sebutan “Jubir”.

Perannya kini jauh lebih kompleks dibanding sekadar menerjemahkan percakapan dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Para penerjemah dituntut memahami istilah teknis, budaya kerja, hingga aspek keselamatan di lingkungan industri.

Kebutuhan terhadap penerjemah telah muncul sejak awal pembangunan kawasan IMIP sekitar 2014. Seiring bertambahnya perusahaan dan berkembangnya teknologi pengolahan nikel, kebutuhan terhadap SDM yang mampu menjembatani komunikasi lintas bahasa dan budaya ikut meningkat.

Wakil Manajer Departemen General Affairs PT Eternal Tsingshan Indonesia, Fanny Viviansi, mengatakan translator menjadi salah satu penghubung penting antarkaryawan di kawasan industri.

Namun, menurut Fanny, kemampuan bahasa saja tidak cukup. Seorang translator juga harus memahami bidang teknis tempatnya bekerja.

“Selain mengerti apa perkataan lawan bicaranya, jubir dituntut pula mengerti konteks pekerjaannya dan mampu menyampaikan informasi secara akurat dan tepat,” ujar Fanny, Kamis (13/8/2026).

Dalam proses rekrutmen, calon translator menjalani serangkaian seleksi, mulai dari wawancara hingga tes tertulis. Kemampuan bahasa Mandarin mereka kemudian diukur menggunakan standar Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK), dengan persyaratan minimal berada pada level 4 atau 5.

Bukan Sekadar Bisa Mandarin

Tantangan terbesar seorang translator di kawasan industri bukan hanya memahami bahasa, tetapi juga membaca konteks dan menjembatani perbedaan budaya antara pekerja Indonesia dan Tiongkok.

Fanny menyebut setidaknya ada tiga aspek penting yang harus dikuasai seorang “jubir”.

Pertama, pemahaman terhadap perbedaan budaya. Cara berkomunikasi dan karakter budaya TKI dan TKA dapat berbeda sehingga translator harus mampu menyampaikan pesan tanpa menghilangkan makna maupun memicu kesalahpahaman.

Dalam budaya Tiongkok, misalnya, hierarki dalam pekerjaan cukup diperhatikan sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih terbuka dan langsung. Sementara budaya Indonesia cenderung lebih mempertimbangkan perasaan dan hubungan interpersonal.

Kedua, aspek keselamatan kerja. Di lingkungan manufaktur seperti IMIP, kesalahan dalam menerjemahkan instruksi teknis dapat berdampak serius.

Karena itu, translator harus memastikan setiap instruksi dipahami secara tepat, terutama yang berkaitan dengan prosedur kerja dan keselamatan.

Ketiga, translator dituntut mampu menyaring pesan berdasarkan konteks sebelum menyampaikannya kepada TKA maupun TKI.

“Dalam praktik penerjemahan, translator diharapkan juga mampu menyaring dan memahami konteks dan lingkungan pembicaraannya,” kata Fanny.

Untuk meningkatkan kemampuan tersebut, PT Eternal Tsingshan Indonesia menerapkan evaluasi kemampuan bahasa secara berkala. Translator dapat mengikuti ujian kompetensi setiap tiga bulan untuk meningkatkan level kemahiran sekaligus membuka peluang pengembangan karier.

Ribuan TKI Didorong Kuasai Bahasa Mandarin

Penguatan kemampuan bahasa juga tidak hanya dilakukan kepada mereka yang telah menjadi translator.

Data Departemen HR PT IMIP mencatat jumlah TKI yang menjabat sebagai translator mengalami dinamika dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 2.095 orang, meningkat menjadi 2.382 orang pada 2024, kemudian menjadi 1.876 orang pada 2025.

Di sisi lain, PT Eternal Tsingshan Indonesia terus mendorong lahirnya lebih banyak tenaga kerja Indonesia yang memiliki kemampuan bilingual.

Salah satu caranya melalui kelas bahasa Mandarin intensif di Tiongkok.

Program pembelajaran yang dimulai sejak Mei 2022 tersebut kini telah berlangsung sebanyak enam batch dengan total sekitar 1.800 peserta.

Hingga Juli 2026, sekitar 430 karyawan Indonesia yang dinyatakan lulus seleksi HSK 4 telah mendapat kesempatan belajar di Tiongkok. Mereka mengikuti pembelajaran di Wenzhou University, Provinsi Zhejiang, serta University of Science and Technology di Beijing.

Pada batch keenam, sebanyak 29 karyawan kembali terpilih untuk mengikuti pembelajaran di Wenzhou University.

Menurut Fanny, program tersebut bukan untuk menggantikan posisi translator, melainkan memperluas kemampuan karyawan Indonesia agar memiliki keahlian teknis sekaligus kemampuan bahasa asing.

“Ke depan kami ingin semakin banyak karyawan Indonesia mampu berbahasa Mandarin dan harus mampu menempati jabatan strategis,” ujarnya.

Pengembangan talenta bilingual tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas SDM di kawasan IMIP.

Bahkan, sejumlah posisi di lingkungan perusahaan mulai membutuhkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin sekaligus.

Dengan kemampuan tersebut, para pekerja Indonesia tidak hanya menjadi penerima transfer pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dapat mengambil peran lebih besar dalam menjembatani komunikasi, memperkuat keselamatan kerja, serta mendukung kolaborasi antara TKA dan TKI.

Di tengah geliat industri hilirisasi nikel di Morowali, para “Jubir” pun menjadi bagian penting dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang produktif, kolaboratif, aman, dan semakin bertumpu pada kualitas tenaga kerja lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.