PT IMIP Dorong Ekonomi Bahodopi, Pengusaha dari Luar Daerah Berdatangan

oleh -370 Dilihat
Screenshot

RADARNASIONAL,MOROWALI— Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini menjadi salah satu kawasan yang terus bergerak seiring berkembangnya aktivitas industri di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).7 Oktober 2026

Ribuan kendaraan lalu-lalang setiap hari. Aktivitas semakin padat terutama saat pergantian sif pekerja. Di tengah minimnya pusat hiburan seperti mal atau wahana bermain, kedai kopi, kuliner, kos-kosan hingga layanan transaksi keuangan tumbuh menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat.

Salah satu kisah datang dari Moh. Ahdiat alias Yudi (27), pemilik Solusi Kopie di Desa Keurea.

Pada 2021, Yudi menyulap bagian depan rumah kerabatnya menjadi kedai kopi sederhana. Awalnya, usaha itu nyaris tanpa pelanggan. Namun, setelah dua tahun fokus membangun bisnis, melakukan rebranding dan menyusun strategi usaha, Solusi Kopie perlahan berkembang.

Kini omzetnya mencapai sekitar Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan atau berpotensi mencapai Rp1,44 miliar dalam setahun.

Sekitar 80 persen konsumennya merupakan pekerja IMIP.

“IMIP tutup, selesai kita,” ujar Yudi sambil berkelakar ketika ditemui pada akhir September 2026.

Bukan hanya kedai kopi. Aktivitas kawasan industri juga membuka peluang bagi sektor jasa keuangan.

Andi Azis Taba, pengusaha asal Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia mulai membangun usaha kos-kosan sebelum kemudian membuka layanan BRILink untuk memenuhi kebutuhan transaksi para pekerja.

Dari hanya tujuh transaksi pada hari pertama, kini dua gerai BRILink miliknya melayani sekitar 2.000 hingga 2.500 transaksi per bulan, dengan nilai transaksi mencapai Rp3 miliar-Rp4 miliar.

Sekitar 60-70 persen konsumennya merupakan karyawan IMIP.

“Waktu volume transaksi mencapai sekitar 15.000 per bulan atau 500 per hari, saya dapat hadiah Honda Mobilio. Pernah juga dapat dua unit sepeda motor, dua unit mobil, dan emas,” kata Azis.

Pertumbuhan jumlah pekerja juga membuat kebutuhan hunian melonjak.

Nasrudin (60), warga Fatufia, menjadi salah satu pelaku usaha yang lebih dulu menangkap peluang tersebut. Pada 2007, ketika aktivitas industri belum sebesar sekarang, ia hanya memiliki lima kamar kos dengan tarif sekitar Rp150 ribu per kamar.

Kini jumlahnya berkembang menjadi 30 kamar.

“Makin bertambah karyawan, otomatis usaha kos-kosan kami semakin berkembang dan ramai juga,” ujarnya.

Geliat ekonomi itu tidak hanya dirasakan pelaku usaha lokal. Perkembangan kawasan industri juga menarik pelaku usaha dari berbagai daerah untuk datang dan membangun bisnis di sekitar kawasan IMIP.

Data survei UMKM Tim SGA PT IMIP mencatat terdapat 7.643 unit UMKM di Bahodopi, dengan sektor kuliner menjadi salah satu yang terbesar, mencapai 2.107 unit, termasuk 111 kafe dan restoran.

Angka tersebut menggambarkan bagaimana keberadaan kawasan industri menciptakan mata rantai ekonomi yang jauh lebih luas. Bukan hanya pekerja dan perusahaan yang bergerak, tetapi juga warung makan, kedai kopi, kos-kosan, laundry, bengkel, transportasi, ritel, jasa keuangan hingga pemasok kebutuhan sehari-hari.

Selama sekitar 13 tahun, perkembangan IMIP ikut membentuk ekosistem usaha di sekitar kawasan. Pelaku usaha daerah, kontraktor, penyedia logistik hingga UMKM menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang menopang puluhan ribu pekerja.

Bahodopi akhirnya tidak hanya berbicara tentang smelter, nikel dan investasi. Wajah kawasan itu juga terlihat dari kedai kopi Yudi, ribuan transaksi Azis, hingga puluhan kamar kos milik Nasrudin.

Semua bergerak karena ada ribuan pekerja yang datang dan membelanjakan penghasilannya di sekitar kawasan.

Dan seperti kelakar Yudi, denyut ekonomi Bahodopi sangat bergantung pada satu hal: “IMIP tutup, selesai kita.”

IFULL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.