RadarNasional,PALU – Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III Palu akhirnya memberikan penjelasan terkait kondisi tanggul selatan pada proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) Saluran Irigasi Gumbasa yang belakangan menjadi sorotan masyarakat akibat dipenuhi rumput liar dan sedimentasi.
BWSS III Palu mengakui bahwa keberadaan sedimen dan pertumbuhan rumput liar di sepanjang saluran berpotensi mengurangi kapasitas aliran air apabila tidak ditangani secara berkala. Namun demikian, pihaknya memastikan kondisi saluran hingga saat ini masih berfungsi normal dan belum mengganggu stabilitas konstruksi.
Menurut BWSS III Palu, ruas tanggul selatan tersebut merupakan saluran pembuang yang menerima aliran dari Sungai Ngia. Karakteristik sungai yang membawa sedimen dalam jumlah besar saat banjir menyebabkan material terus menumpuk di titik pertemuan sungai dan saluran irigasi.
“Sedimen yang berasal dari hulu Sungai Ngia sangat masif. Dalam satu kejadian banjir, material dapat menumpuk cukup tinggi di area pertemuan sungai dengan saluran,” jelas BWSS III Palu.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, BWSS III menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan kegiatan pemeliharaan pasca pembangunan. Pembersihan rumput liar dan pengerukan sedimen di kawasan tersebut dijadwalkan kembali dilaksanakan pada Juni 2026.
BWSS III juga mengungkapkan bahwa ruas saluran yang menjadi sorotan masih berada dalam masa pemeliharaan hingga Juni 2026. Karena itu, tanggung jawab pemeliharaan saat ini masih berada di bawah kontraktor pelaksana, PT Nindya Karya, sebelum nantinya diserahterimakan sepenuhnya kepada BWSS III Palu.
Selain melakukan pemeliharaan rutin, BWSS III mengaku terus melakukan inspeksi lapangan secara bertahap untuk memantau kondisi infrastruktur yang telah dibangun. Pada Mei 2026 lalu, kegiatan inspeksi dan pembersihan telah dilakukan di kawasan hulu Sungai Ngia dan akan berlanjut ke arah hilir hingga wilayah pertemuan Sungai Ngia dan Petobo.
Menanggapi kritik masyarakat yang menilai kondisi tanggul tidak mencerminkan proyek yang baru selesai dibangun, BWSS III Palu menyatakan menghargai seluruh masukan yang disampaikan publik. Pihaknya berjanji akan mengoptimalkan upaya pemeliharaan agar fungsi saluran irigasi dan pengendalian banjir tetap berjalan maksimal.
BWSS III juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuat tanggul atau perangkap ikan di dalam saluran karena dapat mempercepat penumpukan sedimen dan menghambat aliran air.
Sementara itu, terkait anggaran pemeliharaan khusus pada ruas saluran pembuang primer di kawasan tanggul selatan, BWSS III Palu menyebut usulan anggaran masih dalam tahap pengajuan ke pemerintah pusat sehingga nilai pasti yang akan disetujui belum diketahui.
Meski sedimentasi berpotensi mengganggu kinerja sistem irigasi, BWSS III menegaskan bahwa konstruksi saluran telah dirancang untuk mengalirkan debit air secara aman tanpa menyebabkan luapan. Kendati demikian, upaya pengerukan sedimen dan pembersihan vegetasi liar tetap menjadi prioritas untuk menjaga kapasitas saluran tetap optimal.
AD






