IMIP Morowali Genjot PLTS, Dorong Kawasan Industri Menuju Green Industry

oleh -337 Dilihat
Screenshot

RADARNASIONAL,MOROWALI — Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan industri sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Sejumlah perusahaan tenant di kawasan industri berbasis mineral nikel tersebut telah mengoperasikan PLTS dengan kapasitas yang beragam.

Di antaranya PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) sebesar 0,957 MWp, PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) 0,304 MWp, PT Ocean Sky Metal Industry (OSMI) 0,188 MWp, serta PT BTR yang telah mengoperasikan PLTS berkapasitas 9,5 MWp.

Deputy Operational Director PT IMIP, Yulius Susanto, mengatakan pengembangan energi surya menjadi salah satu langkah perusahaan untuk mengurangi emisi sekaligus mendukung target transisi energi Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.

“Kami sudah berkomitmen untuk menuju green industry. Salah satunya pengurangan penggunaan bahan bakar fosil,” kata Yulius, Senin (28/9/2026).

Pengembangan PLTS juga dilakukan sejumlah tenant lainnya. PT Dexin Steel Indonesia (DSI), misalnya, mengembangkan PLTS atap berkapasitas 66 MWp dengan sekitar 119.800 panel surya di lahan seluas 396.700 meter persegi.

Sementara PT PMMI tengah menyelesaikan instalasi PLTS 0,57 MWp. PT QMB juga memetakan pemanfaatan energi surya untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menekan jejak emisi karbon.

Yulius menjelaskan, pemasangan PLTS di kawasan IMIP tidak menggunakan satu model yang sama. Teknologi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing fasilitas.

PT GCNS dan ITSS memanfaatkan area di atas kanal melalui konsep Canal Top Solar PV. Sedangkan OSMI, BTR, PMMI, QMB dan DSI menggunakan sistem PLTS atap pada bangunan industri.

Menurut Yulius, pengembangan energi surya memang menghadapi tantangan, terutama dari sisi kebutuhan lahan dan biaya investasi.

“Memang tidak mudah, karena penerapan energi listrik berbasis tenaga surya ini memiliki kebutuhan dan cost besar. Seperti tenant kita PT Sesmo yang sedang mengembangkan PLTS 200 MWp itu memerlukan lahan sekitar 200 hektare,” ujarnya.

Meski PLTS belum dapat menggantikan seluruh kebutuhan energi fosil, IMIP menyebut pengembangan energi surya menjadi bagian dari proses diversifikasi sumber energi yang lebih efisien.

Yulius berharap pengembangan PLTS tersebut semakin memperkuat komitmen IMIP menuju kawasan industri yang lebih ramah lingkungan.

“Harapan kami dengan adanya PLTS ini, bisa menyatakan kepada dunia bahwa kita merupakan kawasan industri yang benar-benar serius dan berkomitmen tinggi menuju green industry dan bersinergi dengan pemerintah untuk emisi yang lebih baik,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.